Sebuah Sharing Pembelajaran di Sekolah
Oleh: Yohanes Baptista, S.Pd. M.Pd

Pandemi Corona yang melanda hampir seantero dunia, telah mengubah system, model, dan tatacara berinteraksi pada hampir semua institusi; tak terkecuali institusi pendidikan. Sejak wabah tersebut menyerang Suspect 01 pada tanggal 12 Maret 2020 di Indonesia dan menjadi viral mulai tanggal 14 Maret 2020, secara otonom SMAN 2 Borong memutuskan untuk melakukan beberapa tindakan peventif pada tanggal 16 Maret 2020. Salah satu keputusan paling berani adalah menginstruksikan guru-guru untuk menganti model pembelajaran kelompok-kolaboratif ke pembelajaran individual. Disebut keputusan berani karena model pembelajaran kolaboratif adalah nafas dari Kurikulum 2013.

Tanggal 16 Maret 2020 Gubernur NTT mengeluarkan maklumat belajar dari rumah melalui Instruksi Gubernur Nomor 443/100/PK/2020. Melalui intruksi ini, Satuan Pendidikan diwajibkan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh daring maupun luring mulai tanggal 20 Maret 2020 sampai tanggal 4 April 2020. Setelah intruksi ini, pola belajar dari rumah diperpanjang sebanyak 2 (dua) kali. Terakhir diperpanjang hingga tanggal 30 Mei 2020.

Perubahan berupa perpanjangan pola belajar dari rumah tanpa terencana tidaklah semuda dibayangkan pada level implementasi. Selalu ada resiko dan konsekwensi sebagai bayaranya. Pola penugasan yang semula direncanakan diuji dan/atau dikumpulkan pada saat tatap muka  (setelah 4 April 2020) terpaksa dibatalkan begitu saja.

Disamping itu, tekanan mental berupa panic, rasa kwatir dan bayang-bayang ketakutan sangat menggangu kenyamanan kerja, mengikis motivasi, dan melimitasi ruang inisiatif. Dalam tekanan mental macam itu filter informasi tidak berfungsi dengan baik. Muda termakan hoaks. “Jangan kasih tugas terlalu banyak” adalah salah satu informasi sempat diyakini kebenarannya.  Matinya inovasi guru-siswa adalah fonomena paling nyata sebagai dampaknya. Akibatnya pembelajaran menjadi tidak terurus, tidak terencana, dan berantakan.

Seiring makin kayanya informasi tentang wabah corona,  perlahan rasa takut mulai kehilangan tempat. Hasrat berinovasi mengelisah dalam batasan ruang teritorial. Di rumah saja mulai bosan, keluar juga engan. Hanya ruang imaji dan virtual yang memungkinkan bebas keluar karena borderless (tak berbatas). Disinilah aktifitas berpikir mendapat tempat yang memungkinkan lahirnya inovasi. Dengan demikian ide belajar di rumah mulai beragam macam.

Tulisan ini, selain memberikan gambaran umum tentang proses belajar dari rumah, pada bagian tertentu (secara khusus) akan mengupas lebih dalam sejumlah inovasi belajar dari rumah. Dengan demikian, pada satu sisi tulisan ini merupakan “daftar keluhan”. Dan di lain  sisi, dapat dianggap sebagai sharing praktik baik yang dilakukan selama masa belajar dari rumah.

Sedikit Soal SMAN 2 Borong

Untuk memahami konteks tulisan ini dan cara penulis (sebagai praktisi) merespon situasi, sedikit digambarkan semacam profil skolah SMAN 2 Borong dalam konteks pembelajaran. Bagaimanapun juga, pemahaman yang utuh tentang konteks akan memberikan makna tertentu terhadap setiap praktik.

Secara geografis, SMAN 2 Borong berada pada posisi -8.8251 garis lintang dan 120.6194 garis bujur. Secara administratif, sekolah ini berada di Kelurahan Kota Satar Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur. Sekolah ini terletak pusat kota adminstratif Kabupaten Manggarai Timur.

Sebagai sekolah perkotaan, sebagian besar para siswanya berasal dari latar belakang budaya dan keluarganya yang heterogen. Secara umum terdiri dari penduduk asli Manggarai dan suku-suku penduduk urban, yakni; Suku Bejawa, Suku Ende dan suku-suku dari anak kampung di wilayah admistratif Kabupaten Manggarai Timur.

Sebagian besar orang tua siswa berlatar belakang sosio-ekonomi menegah ke bawah, sekitar delapan puluh lima persen lebih berprofesi sebagai nelayan dan petani. Karena kebanyakan datang dari kampung yang jauh, kurang lebih 90 persen siswa SMAN 2 Borong tinggal di Kost. Sekitar 6% tinggal di sanak-saudara yang didasarkan hubungan keluarga (om, tanta, kakak, satu kampung atau satu suku). Dan tak lebih dari 4% yang tinggal bersama orang tua.

Dengan profil dan portofolio macam itu, sangat tidak dimungkinkan  mengunakan pembelajaran jarak jauh yang mengandung konsekwensi biaya. Sebab, meskipun 80 persen lebih siswa telah memiliki HP Android, pembelajaran online yang berdampak pada pembelian pulsa rutin yang akan menyulitkan siswa. 

Selain itu, rendahnya semangat belajar siswa juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan belajar online yang menyaratkan kemandirian. Indikasi rendahnya semangat belajar ini sebetulnya “justru”menampakan diri pada kepemilikan HP Android. Dalam kebanyakan kasus yang ditangani oleh penulis sebagai Wakasek Kesiswaan menunjukan bahwa beberapa orang tua mengeluh dengan ancaman siswa yang membarter waktu tempuh sekolah dengan HP Android. Para siswa dideskripsikan memilih berhenti sekolah jika tidak dibelikan HP Android. Bahkan sebagaian siswa tidak canggung-canggung memohongi orang tua dengan dalil “kepemilikan HP adalah perintah wajib sekolah”.

Dengan demikian, meski mungkin ancaman siswa macam itu bersifat pseudo, tapi jelas bahwa kepemilikan HP Android selain mengambarkan kondisi keterpaksaan dan ketakberdayaan orang tua, juga mengambarkan realitas rendahnya semangat belajar siswa. Meskipun hubungan tersebut bersifat tidak lansung.

Fakta lainnya, yang juga cukup menarik adalah rendahnya minat dan/atau kemampuan siswa dalam memanfaatkan portal pembelajaran online. Hal ini terindikasi dari peminat kelas online yang pernah (tahun lalu) diinisitif penulis, yakni; kelas online Edmodo dan Kelas Maya pada Portal Rumah Belajar. Pada kelas Edmodo hampir tidak ada siswa yang mendaftar, pada kelas Kelas Maya hanya 30 siswa yang mendaftar; itupun dibimbing extra dengan memakan waktu yang cukup lama.

Untungnya, intruksi pembelajaran dari rumah pada masa pandemic Corona memiliki beberapa alternative model. Salah satunya model luring. Model luring dengan tanpa memanfaatkan teknologi, meski ribet dan kurang praktis; sangat dimungkinkan dilaksanakan pada sekolah yang heterogen dan memiliki penguasaan teknologi digital bervariatif.

Serpihan Fakta Belajar Dari Rumah

Belajar dari rumah periode 1 dilangsungkan dari tanggal 20 Maret 2020 s/d 4 April 2020.  Sedangkan periode dua berlansung dari 5 April sampai 21 april. Secara umum, ditemukan bahwa sangat sulit membuat laporan terpisah dua periodisasi ini dalam dua laporan yang berbeda. Kesulitan tersebut lebih-lebih diakibatkan oleh rencana penuntasan tiap KD tidak mengikuti periodesasi yang dibuat berdasarkan kebijakan belajar dari rumah selama masa pandemic korona.

Dalam konteks pembelajaran, pemberian tugas pada periode I dikategorikan Mudah dan Luring. Penjelasan kenapa diberikan secara luring (offline), sebetulnya merupakan konsekwensi logis dari refleksi penulis terkait  Profil Siswa. Atas dasar itu, terdapat semacam “hypothesis” bahwa pelaksanaan secara DARING (online) tidak dapat dimungkinkan. Selain itu, Periode I kebijakan belajar dari rumah berlansung singkat.

Mengenai pemberian tugas yang Mudah, terdapat 2 (dua) alasan penting mendasarinya sebagai berikut:

Pertama, Penulis tidak memiliki persiapan untuk menjalankan dan menafsirkan maklumat belajar dari rumah. Karena tidak memiliki rencana cadangan, semua yang terjadi bersifat dadakan.  Semua yang terjadi begitu cepat, demikian pula informasinya. Selain itu, ada rumor yang mengatakan bahwa sekolah yang menunda kegiatan belajar dari rumah dapat dipidanakan. Karena itu, yang dipikirkan oleh penulis sebagai guru adalah tugas apa yang relevan dengan materi ajar. Itu saja. Lagi pula, terdapat anggapan bahwa pristiwa belajar dari rumah berlansung cepat. Hanya sampai 4 April 2020.

Kedua, terdapat tekanan psikologis yang kuat dilingkungan belajar SMAN 2 Borong dalam menghadapi wabah Corona. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa awal bencana corona seperti “hantu” yang ditakuti. Semua informasi-informasi yang beredar membuat kwatir, cemas, resah dan tidak nyaman; hinga sampai pada kesimpulan: “sehat dan selamat itu utama, pintar itu kedua”.

Akan tetapi, menjelang akhir periode 2 iklim positif pembelajaran dari rumah sudah mulai tampak. Indikasi hidupnya iklim pembelajaran tampak pada beberapa hal sebagi berikut: 1). Konsolidasi online berupa kelas bebasis group media sosial makin mantap baik dari segi jumlah anggota group, maupun dari segi intensitas komunikasi antara guru dan siswa. 2) Respon siswa terhadap tugas-tugas mayoritas baik. 3). Variasi pembelajaran dan pengunaan media mulai tampak. Pada akhir periode 2, penulis memanfaatkan chanel youtube untuk memberi penjelasan, Blog untuk pendalaman dan LKS, group Facebook untuk diskusi dan bahkan Aplikasi bebasis android untuk menyiasasti ketiadaan signal.

Selanjutnya, pembelajaran dari rumah periode 3 dimulai tanggal 21 April s/d 30 juni 2010. Masa itu adalah masa emas realisasi pembelajaran dari rumah. Disebut “masa emas” karena kosolidasi group berbasis media sosial nyaris sempurna. Dengan demikian, terdapat jembatan komunikasi yang dapat menghubungkan guru dan siswa dalam konteks pembelajaran. Jumlah anggota group SMANDU ENGLISH CLUB mulai tanggal 25 april 2020 tercatat sebanyak 163 akun, terdiri dari: 156 siswa dan 6 orang guru.

Para guru yang digabungkan dalam group tersebut, adalah wakil kepala sekolah bagaian kurikulum untuk memonitoring proses belajar dan beberapa guru yang membutuhkan bantuan untuk menemukan akun siswa. Dengan demikian, selain secara horizontal group tersebut membantu rekan guru untuk memudahkan komunikasi dengan siswa; secara vertical proses belajar bahasa inggris mendapat dapat di monitoring oleh pimpinan lembaga secara real time.

Adanya wadah komunikasi berupa group facebook, selain memudakan aktifitas transfer ilmu (tranfering knowlwdge), juga memungkinkan guru merancang pembelajaran secara bervariatif dengan memperhatikan kesulitan siswa.

Berdikusi pada group facebook berbeda dengan dikusi pada kelas tradisional. Pada kelas tradisional, aktifitas dikusi dibatasi waktu pertemuan. Sedangkan pada group facebook, diskusi berakhir hanya bila tiap anggota diskusi telah mencapai satu kesepakatan bersama. Tentu saja ini menguntungkan untuk melatih aktifitas berpikir, selain itu minat terhadap topic akan terus mengalami peningkatan sering memanasnya silang pendapat. Dalam hal ini, guru cukup menetapkan etika penyampaian pendapat.  Berikut ini adalah beberapa keuntungan melakukan aktifitas dikusi pada group facebook:

  1. Komunikasi tidak hanya berlansung antara guru dan siswa, tetapi juga terjadi antara siswa.
  2. Proses belajar dapat terus berlansung sepanjang waktu (tak berbatas jadwal), karena respon yang beragam diantara siswa. Lebih-lebih pada topic diskusi yang debatable.
  3. Tidak membutuhkan terlalu banyak waktu dan energy guru untuk terlibat dan memimpin jalannya dikusi.
  4. Siswa dapat mengajukan pendapat berkali-kali untuk menyakinkan peserta dikusi (siswa lain).
  5. Memungkinkan agumentasi-agrumentasi yang disampaikan menjadi topic baru (tesis baru) yang menarik untuk didikusikan.
  6. Group diskusi facebook dapat dijalankan dengan mode gratis. Dengan demikian dapat menjadi solusi untuk siswa yang tidak memiliki budged yang cukup

Akan tetapi grup diskusi facebook juga memiliki kelemahan, terlebih untuk siswa yang jauh dari jangkauan signal. Sebagaimana yang dijelaskan terhulu; beberapa siswa berasal dari kampong blank spot (tanpa signal), dan hanya terdapat pada titik tertentu dalam wilayah itu . Selain itu, group facebook sulit dirancang untuk menyampaikan materi  secara holistic dan memberi penugasan berupa LKS. Karena itu, Selaku guru bahasa Inggris saya tetap membuat video pembelajaran yang ditayangkan di youtube dan memberikan LKS melalui blog.

Dengan demikian, rancangan pembelajaran pada periode 3 ini secara umum difasilitasi dengan tiga fasilitas daring, sebagai berikut:

  1. Group Facebook berguna untuk berdikusi, menyampaikan informasi dan memberikan motivasi.
  2. Chanel Youtube digunakan untuk menjelaskan materi ( link youtube: https://bit.ly/38y5uLn)
  3. Blog digunakan untuk memberikan LKS ( link Blog https://juanobaptista.wordpress.com)

Permasalahan yang paling serius pada BDR ini adalah soal akses internet. Sebagaian siswa menjelaskan bahwa mereka tinggal di tempat yang akses internetnya terbatas. Mereka harus berangkat ketempat tertentu untuk mencari signal dan dapat mengakses internet. Persoalan inilah yang menjelaskan kenapa sebagain siswa kurang aktif berdikusi pada group facebook.

Selain itu, para siswa sulit mendapat penjelasan yang utuh melalui video pembelajaran melalui tayangan youtube. Sesungguhnya, video youtube dapat didowload dan ditonton berkali-kali di rumah.  Akan tetapi persoalan jumlah kuota yang dibutuhkan, plus rendahnya kompetensi siswa teknik mendowload dari youtube menjadi kesulitan tersendiri.

Oleh karenan itu, penulis membuat aplikasi yang dapat didowload dan dapat dimaikan di HP android. Rancangan pembelajaran melalui aplikasi, selain membuat siswa “tergoda” untuk mengetahui; juga menjadi solusi bagi siswa yang kesulitan signal. Karena aplikasi dapat didowload sekali dan dapat dibuka berkali-kali. Selain itu, aplikasi yang dirancang tidak membutuhkan kota banyak untuk download. Tampilan-tampilan dan fitur yang terdapat didalamnya menarik dan interaktif. Adapun aplikasi tersebut dapat didownload pada aplikasi berikut: Link aplikasi narrative text

klik icon untuk menuju halaman download

BDR: Sebuah Permenungan

Sangat tampak dalam dskripsi kegiatan di atas bahwa keberhasilan pelaksanaan belajar dari rumah sangat ditentukan oleh 3 (tiga hal penting) yaitu; sumber daya, perencanaan, kenyamanan belajar, dan Intensitas komunikasi.

  1. Sumber Daya. Sebagaian besar hambatan yang terjadi sebagaimana yang terlapor adalah menyangkut sumberdaya, baik sumberdaya manusia maupun finansial.  Pada sumberdaya manusia persoalan BDR lansung bersentuan dengan kompetensi digital. Dalam hal ini, berkenaan dengan kemampuan siswa untuk mengoperasi tools kelas pembelajaran online yang ideal dan disarankan seperti Google classroom, Kelas Maya, dan Edmodo. Trauma pengalaman minimnya jumlah siswa yang beragabung dengan kelas edmodo dan Kelas Maya selain mengambarkan kompetensi digital siswa SMAN 2 Borong rendah, juga memaksa alternative pilihan belajar di rumah menjadi terbatas, yakni penugasan luring. Dengan demikian, pembelajaran menjadi kurang efektif yang disebabkan oleh jaraknya komunikasi guru dan siswa.  Selain itu, gambaran tentang rendahnya kemampuan finansial orang tua untuk budged pembelajaran daring (Biaya pulsa) turut mendukung pilihan pelaksanaan pembelajaran luring, meski kurang efektif.  Klaim tersebut didukung fakta bahwa tidak semua siswa dapat terlibat dalam pembelajaran luring.
  2. Perencanaan: Deskripsi diatas, sekurang-kurangnya membenarkan thesis “Perencanaan yang baik adalah setengah dari pelaksanaan tugas”. Dalam konteks laporan di atas, ketidakmampuan guru dalam memprediksi konteks situasi dan kondisi pasca belajar di rumah periode menyebabkan kekosongan ide untuk menlaksanakan pembelajaran secara efektif pada BDR 1 dan 2. Kekosongan tersebut maujud dalam pelaksanaan pembelajaran asal-asalan.  Sebaliknya, kesuksesan BDR 3 diakibatkan karena situasi sudah dapat diprediksi dan antisipasi pembelajarnpun telah disiapkan.
  3. Kenyamanan Belajar :Dalam deskripsi diatas, pada masa-masa awal sangat tampak bahwa kenyamaan belajar memiliki hubungan lansung dengan efektifitas belajar. Gambaran tentang tekanan psikologis, seperti rasa cemas, takut, dan resah pada Wabah Corona yang dideskripsikan sebagai “hantu” adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kegagalan pelaksaan pembelajaran dari rumah periode I dan II. 
    Bagaimanapun juga, kebutuhan akan rasa aman adalah inting dasar dari manusia dalam bertahan hidup. Dalam deskripsi yang positif dapat dikatakan rasa takut, cemas dan resah adalah sinyal psikologis terhadap adanya bahaya. Dalam kondisi yang demikian, konsentrasi fisik dan psikologis manusia difokuskan pada kebutuhan akan keselamatan, bukan kreatifitas dan apalagi prestasi. Akibatnya, pembelajaran dijalankan hanya untuk memenuhi kebutuhan admistrasi belaka dan bersifat asal-asalan.
    Indikasi hilangnya tekanan psikologis (baik karena bosan dengan acaman wabah, maupun karena penyerapan infomasi yang positif) turut memulihkan kebutuhan untuk berkeratifitas dan berprestasi. Hal itulah yang menjelaskan tingginya intensitas komunikasi guru-siswa sejak tanggal 11 April 2020 dan secara keseluruhan pada BDR 3. Pada giliranya, intensitas komunikasi yang kontinyu dan rutun menghidupkan iklim pembelajaran yang sehat. 
  4. Intensitas komunikasi: Intensitas komunikasi dalam laporan di atas sangat tampak berpengaruh pada produktifitas belajar dari rumah. Minimnya kereatifitas selama pembelajaran periode I dan II  adalah bukti paling nyata untuk menjelasakan hubungan intensitas komunikasi dengan iklim belajar yang produktif. Sebaliknya, tingginya intensitas komunikasi melalui Facebook sejak tanggal 11 April 2020 membantu guru dan siswa untuk lebih produktif dalam mengelolah pembelajaran; meski belum semua siswa terlibat
    Kesadaran akan hubungan yang saling mempengaruhi antara intesitas komunikasi dengan produktifitas belajar, pada akhirnya mendorong guru membentuk group facebook SMANDU ENGLISH CLUB. Pembentukan kelas melalui Facebook, meski tampak tidak professional seperti Google Classroom, Edmodo, dan Kelas Maya; akan tetapi sangat membantu menghidupi iklim komunikasi yang positif antara guru dan siswa. 
    Pengunaan media sosial yang masif di masyarat, memungkinkan siswa memiliki banyak “guru” yang dapat membimbing mereka dalam mengoperasikan Facebook ketimbang kelas virtual professional. Kesimpulan macam itu adalah hipotesis yang paling masuk akal saat ini untuk menjelaskan rentang pengunaan kelas Facebook ketimbang kelas professional.

Ide Biosentrisme Belajar: Kelas Masa Depan dan Harapan

Saya mulai saja dengan Ducan McDaugal (1907) yang penasaran dengan nyawa/jiwa. Selain anjing,  Si gila McDaugal menimbang berat pasien yang sekarat untuk menilai berat mereka saat bernyawa dan saat mati. Hasilnya, terdapat selisih 21.3gr pada manusia saat hidup dan mati. Hasil penelitian itu kontroversial dan mentah. Selain itu, masih sulit menjawab pertanyaan kunci “Apa itu nyawa?”.

Lanjut! Di Nebraska tanggal 4 april 2015, seorang bayi sehat dan normal lahir dari tubuh Karla Perez yang mati. Secara memukau, para dokter berhasil menyambar kehidupan dari kematian selama 45 hari. Waktu yang cukup untuk Angel Perez bertumbuh menjadi bayi dalam janin ibunya, dengan menjaga tubuh Karla tetap berfungsi. Selama itu pula, Karla Perez berada di wilaya abu-abu (Tidak mati, tidak juga hidup). (www.omaha.com; 24/3/20160)

Meyakini kehidupan setelah kematian dalam rana agama memang tidak sulit. Dalam agama Katholik, “kehidupan kekal” adalah credo. Sejauh ini, saya tidak memiliki cukup ilmu untuk sampai pada klaim bahwa agama Abrahamaik lainnya juga memiliki kosep yang sama. Meski begitu, keyakinan akan adanya surga mengindikasikan terdapat kesamaan terhadap konsep tersebut.

Dalam rana sains, usaha untuk membuktikan kehidupan setelah kematian tidak mudah. Sesulit mendefenisikan kehidupan dalam konteks Karla. Meski begitu, usaha tersebut bukan berarti tidak ada. Para ilmuwan mengembangkan sebuah teori yang disebut biosentrisme. Beberapa ilmuwan penganut teori ini percaya, jiwa/nyawa tersimpan dalam mikro tublus dalam sel otak.

Dengan merujuk pada teori Kekekalan Energi, teori biosentrisme menjelaskan kendati tubuh dirancang untuk hancur sendiri, namun “energy” dalam otak tetap hidup/ada, yaitu “perasaaan hidup” mengenai kesadaran tentang “siapakah saya”. “Perasaaan hidup” itu tidak diciptakan, sebagaimana dia tidak dapat musnah. 

Sejumlah observasi dilakukan. Mulai dari meneliti orang yang punya pengalaman mati suri. Mendeteksi aktifitas otak mayat. Sampai pada memeriksa tanda-tanda biologis rahib Budha yang mati dalam keadaan “Thukdam”. Hasilnya menunjukan bahwa kehidupan dan kematian ternyata berkorenspondensi dengan “alam berdimensi lain” (multi verse).  Karena itu, kaitan antara pengalaman dan semesta melampaui gagasan manusia tentang ruang dan waktu.

Sampai disini, anda mungkin bingung membaca penjelasan ini. Sebingung diri saya mendeskripsikannya karena sesungguhnya tidak terlalu tertarik pada sains. Ringkasnya, proposal dasar teori biosentrisme adalah sebagai berikut: ruang dan waktu hanyalah alat penghimpun informasi secara bersamaan. karena itu, dalam dunia yang tak ada ruang dan waktu tak ada istilah kematian.

Mari kita lihat bagaimana metafora Biosentrisme masuk dalam konteks belajar.Agar tidak kemana-mana! Belajar yang saya maksudkan disini, disempitkan artinya menjadi aktifitas interaksi “guru-siswa” dalam tradisi sekolahan. Dengan demikian, belajar dikatakan hidup/ada bila terdapat interaksi antara guru dan siswa. Dan dikatakan mati bila aktifitas interaksi tidak terdekteksi/tidak ada.

Seperti konsep kematian dalam sains tradisional, kelas-kelas klasik mengisaratkan kematian aktifitas belajar di sekolahan semudah tombol saklar mati-hidup. Tak ada ruang kelas, tak ada belajar (sama dengan mati). Tak ada roster pertemuan, tak ada belajar. Sama juga mati. Secara bersamaan, ruang dan waktu adalah alat penting hidupnya aktifitas belajar. Ingat lagi dalil biosentrisme “ruang dan waktu hanyalah alat penghimpun informasi secara bersamaan”.

Oleh perkembangan IPTEK, konsep klasik mati-hidupnya aktifitas belajar di sekolahan digugat dan dikudeta. Sejumlah aktifitas belajar di dunia virtual (sebut saja kelas daring) telah terjadi melampaui ruang dan waktu. Tak ada batasan ruang; Darimana dan dimana saja orang bisa belajar. Tak ada batasan waktu; kapan saja orang bisa belajar.

Guru yang membuat video pembelajaran di youtube, bisa ditonton siswa dimana saja, dari manasaja, dan kapan saja. Karena tak berbatas ruang (boarderless) dan tak berbadata waktu, maka dunia virtual ini dapat disebut dunia tampa ruang dan waktu. Dengan demikian, ada harapan hidupnya aktifitas belajar meski tampa ruang dan waktu. Sekali lagi ingat “dalam dunia yang tak ada ruang dan waktu tak ada istilah kematian”.

Keberadaan/kehadiran “dunia virtual” di sekolahan bukan tanpa keraguan. Banyak yang sinis dan pesimis; dengan alasan dan/atau atas nama degradasi moral. Namun kemudian, keraguan terhapus (saya kira), oleh badai pandemic korona. Atas nama “hidup/kehidupan”, denyut nadi aktifitas belajar terpaksa dilaksanakan di dunia virtual. Dengan demikian, belajar jadi kekal. Terdapat aktifitas belajar pada “dunia lain”, meskipun secara fisik telah lumpuh. Jika tidak, aktifitas belajar benar-benar mati.

Semoga, kehadiran IPTEK membantu kita (siswa dan guru) menjembatani prinsip “long life education”, bukannya tergerus oleh  arus kemajuan itu sendiri.

***

Bagikan